KAJIAN PENGGUNAN OBAT KELASI BESI PADA PASIEN TALASEMIA MAYOR DI RSUD X KEBUMEN TAHUN 2023

Authors

  • Lutfia Nurhasanah Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Gombong
    Indonesia
  • Ayu Nissa Ainni Program Studi Pendidikan Profesi Program Profesi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Gombong
    Indonesia
  • Tri Cahyani Widiastuti Program Studi Pendidikan Profesi Program Profesi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Gombong
    Indonesia
  • Muh. Husnul Khuluq Program Studi Pendidikan Profesi Program Profesi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Gombong
    Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.23917/ujp.v4i2.531

Keywords:

talasemia mayor, kelasi besi, penggunaan obat

Abstract

Talasemia mayor merupakan jenis talasemia yang harus menjalankan transfusi darah seumur hidup. Obat kelasi besi digunakan untuk mengurangi peningkatan kadar besi dalam tubuh karena efek samping transfusi darah. Penggunaan obat kelasi besi, dapat menyebabkan efek yang signifikan, sehingga penting untuk mengkaji terapi pengobatan selama penggunaannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pasien dan ketepatan penggunaan obat kelasi besi berdasarkan tepat indikasi, dosis, pasien, obat, dan rute pemberian obat di RSUD X Kebumen periode tahun 2023. Metode penelitian ini menggunakan metode  deskriptif, pengambilan data secara retrospektif. Populasi seluruh rekam medis pasien dengan diagnosis talasemia mayor periode Januari-Desember 2023 yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien talasemia mayor yang sedang menjalani pengobatan kelasi besi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebanyak 74 pasien sesuai kriteria inklusi, jenis kelamin terbanyak perempuan (61%) dengan usia13-64 tahun (70,1%), obat kelasi besi yang paling banyak yaitu Deferipron 500 mg (68,9%). Ketepatan dosis Deferipron 500 mg (4%), Deferasirox 250mg (20%), Deferasirox 500 mg (67%), dan tepat rute pemberian (100%). Berdasarkan hasil penlitian etsrbut dapat disimpulkan bahwa kajian penggunaan obat kelasi besi pada pasien talasemia mayor di RSUD X masih terdapat beberapa pemberian obat yang tidak tepat dosis obat sebesar 59 pasien (79%).

Downloads

Download data is not yet available.

References

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2019). Profil Kesehatan Provinsi Jateng Tahun 2019. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 3511351(24), 61.

El-Rachidi, S., LaRochelle, J. M., Morgan, J. A. (2017). Pharmacists and pediatric medication adherence: Bridging the gap. Hospital Pharmacy, 52(2), 124–131. https://doi.org/10.1310/hpj5202-124

Entezari, S., Haghi, S. M., Norouzkhani, N., Sahebnazar, B., Vosoughian, F., Akbarzadeh, D., Islampanah, M., Naghsh, N., Abbasalizadeh, M., Deravi, N. (2022). Iron chelators in treatment of iron overload. Journal of Toxicology, 2022, 18,. https://doi.org/10.1155/2022/4911205

Haq, F., Mustofa, S., & Himayani, R. (2023). Talasemia beta: etiologi, klasifikasi, faktor risiko, diagnosis dan tatalaksana. Agromedicine, 10(1), 159–166, Lampung.

Kemenkes RI. (2018). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Thalasemia. 1, 430-439 Jakarta RI.

Kemenkes RI. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/5675/2021 tentang Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2021-2025. Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2025, 1–1405. jdih.kemkes.go.id

Mahardika, D. & Astuti T.D. (2020). Systematic review: analisis kadar hemoglobin pada kasus talasemia β. Naskah Publikasi, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, 1–10.

Nurbahiyah, E., & Maulina, D. (2023). Profil Penggunaan obat kelasi besi pada pasien talasemia poli anak di rumah sakit X Jatinegara. Indonesian Journal of Health Science, 3(2), 149–154. https://doi.org/10.54957/ijhs.v3i2.441

Permenkes. (2016). PMK No 73 tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Permenkes, 152(3), 28.

Prakash, A., & Aggarwal, R. (2012). Thalassemia major in adults: short stature, hyperpigmentation, inadequate chelation, and transfusion-transmitted infections are key features. North American Journal of Medical Sciences, 4(3), 141–144. https://doi.org/10.4103/1947-2714.93886

Rejeki, D.S.S., Nurhayati, N., Supriyanto, S., Kartikasari, E. (2012). Studi epidemiologi deskriptif talasemia. Kesmas: National Public Health Journal, 7(3), 139. https://doi.org/10.21109/kesmas.v7i3.61

Rujito, L. (2019). Buku referensi thalasemia: genetik dasar dan pengelolaan terkini. In Penerbit Universitas Jenderal Soedirman (Vol. 15, Issue 2). https://bit.ly/3Rrnnl9

Saprudin, N., & Sudirman, R. M. (2019). Peningkatan pengetahuan orangtua tentang perawatan pasca tranfusi pada anak thalasemia melalui pemberian komunikasi informasi edukasi berbasis audio visual di kabupaten Kuningan. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 10(1), 88–94. https://doi.org/10.34305/jikbh.v10i1.88

Sawitri, H., Husna, C.A. (2018). Karakteristik pasien thalasemia mayor di blud RSU Cut Meutia Aceh Utara tahun 2018. AVERROUS: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Malikussaleh, 4(2), 62. https://doi.org/10.29103/averrous.v4i2.1038

Suhada, R. I., & Artini, D. (2022). trend perubahan kadar hemoglobin pada pasien thalasemia dengan pemberian packed red cells di RSUD kabupaten Sleman. Jurnal Analis Kesehatan Kendari, 5(1), 24–29. https://doi.org/10.46356/jakk.v5i1.219

Downloads

Published

2025-02-28

How to Cite

Nurhasanah, L., Ainni, A. N., Widiastuti, T. C., & Khuluq, M. H. (2025). KAJIAN PENGGUNAN OBAT KELASI BESI PADA PASIEN TALASEMIA MAYOR DI RSUD X KEBUMEN TAHUN 2023. Usadha Journal of Pharmacy, 4(1), 116–123. https://doi.org/10.23917/ujp.v4i2.531

Issue

Section

Articles