AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK SAMBUNG NYAWA, PEGAGAN, KETEPENG CINA, DAN BAYAM MERAH TERHADAP Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 SENSITIF DAN RESISTEN

Authors

  • Devina Talitha Nabila Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
    Indonesia
  • Peni Indrayudha Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
    Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.23917/ujp.v4i3.536

Keywords:

Pseudomonas aeruginosa, antibakteri, KLT, bioautografi

Abstract

Bakteri Gram-negatif Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen oportunistik yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial, neutropenia, luka bakar parah, atau fibrosis kistik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan kurang tepat dapat mengakibatkan bakteri menjadi resisten. Salah satu alternatif pengobatan resistensi bakteri adalah menggunakan tanaman obat seperti sambung nyawa, pegagan, ketepeng cina, dan bayam merah. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas antibakteri keempat ekstrak tanaman tersebut terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 sensitif dan resisten serta untuk mengetahui golongan senyawa antibakteri pada ekstrak tanaman yang mempunyai aktivitas antibakteri paling tinggi dengan bioautografi. Keempat tanaman diekstraksi dengan etanol 96% menggunakan metode maserasi. Metode yang digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari empat ekstrak adalah metode difusi disk dengan seri konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 20%, 40%, dan 80% b/v. Kandungan senyawa pada ekstrak yang paling poten dilakukan analisis menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan bioautografi. Hasil dari uji antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak ketepeng cina memiliki potensi antibakteri tertinggi terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 sensitif dengan zona hambat pada konsentrasi 20%, 40%, dan 80% berturut-turut adalah 7 ± 0 mm, 8 ± 0,87 mm, dan 8,2 ± 0,29 mm. Hasil uji ekstrak ketepeng cina terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa resisten didapatkan zona hambat sebesar 9,17 ± 0,29 mm, 9,50 ± 2,60 mm, dan 13,67 ± 1,15 mm. Hasil dari uji KLT ekstrak ketepeng cina memiliki kandungan flavonoid, saponin, terpenoid, tanin, steroid, dan alkaloid. Hasil bioautografi menunjukkan bahwa ketepeng cina pada bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 sensitif dan resisten tidak ada zona hambat yang terbentuk.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alen, Y., Agresa, F.L. and Yuliandra, Y. (2017). Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dan aktivitas antihiperurisemia ekstrak rebung Schizostachyum brachycladum Kurz (Kurz) pada Mencit Putih Jantan. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 3(2), pp. 146–152.

Arumugam, T. Ayyanar, M. Pillai, Y.J.K., Sekar, T. (2011). Phytochemical screening and antibacterial activity of leaf and callus extracts of Centella asiatica. Bangladesh Journal of Pharmacology, 6(1), pp. 55–60. doi: 10.3329/bjp.v6i1.8555.

Aryanti, Harsojo, Syafria, Y., dan Ermayanti, T.M. (2007). Isolasi dan uji antibakteri batang Sambung nyawa (Gynura procumbens Lour) umur panen 1, 4 , dan 7 bulan. Jurnal Bahan Alam Indonesia, 6(2), pp. 43–45.

Bakhtra, D.D.A., Jubahar, J. dan Yusdi, E. (2018). Uji aktivitas fraksi dari ekstrak daun Sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour) Merr.) terhadap bakteri Shigella dysenteriae. Jurnal Farmasi Higea, 10(1), pp. 10–18. http://dx.doi.org/10.52689/higea.v10i1.175.

Fauzana, D.L., Chilwan, P., dan Chaidir. (2010). Perbandingan metode maserasi, remaserasi, perkolasi dan reperkolasi terhadap rendemen ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Gellatly, S.L. and Hancock, R.E.W. (2013). Pseudomonas aeruginosa: New insights into pathogenesis and host defenses. Pathogens and Disease, 67(3), pp. 159–173. doi: 10.1111/2049-632X.12033.

Harbone, J.B. (1987). Metode fitokimia : penuntun cara modern menganalisis tumbuhan. Bandung: ITB.

Gilmore, B.F. and Denyer, S.P. (2011). Hugo and Russell's Pharmaceutical Microbiology, 8th edn. Oxford: Blackwell Publishing.

Kagan, I.A. and Flythe, M.D. (2014). Thin-layer Chromatographic (TLC) separations and bioassays of plant extracts to identify antimicrobial compounds. Journal of Visualized Experiments, (85), pp. 1–8. doi: 10.3791/51411.

Mayasari, E. (2005). Pseudomonas aeruginosa; karakteristik, infeksi dan penanganan. Medan: USU Repository.

Nurmala, N., Virgiandy, I., Andriani, A., Liana, D.F. (2015). Resistensi dan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik di RSU dr. Soedarso Pontianak tahun 2011-2013. e Jurnal Kedokteran Indonesia, 3(1), pp. 21–28.

Ochoa S.A., López-Montiel, F., Escalona, G., Cruz-Córdova, A., Dávila, L.B., López-Martínez, B., et al. (2013). Pathogenic characteristics of Pseudomonas aeruginosa strains resistant to carbapenems associated with biofilm formatio. Bol Med Hosp Infant Mex, 70(2), pp. 133–144.

Poeloengan, M., Andriani, Susan, M.N., Komala, I. dan Hasnita, M. (2007). Uji daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang bungur (Largerstoremia speciosa Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Institut Pertanian Bogor.

Pulipati, S., Srinivasa, B.P. and Lakshmi, N.M. (2015). Phytochemical analysis and antibacterial efficacy of Amaranthus tricolor (L) methanolic leaf extract against clinical isolates of urinary tract pathogens. African Journal of Microbiology Research, 9(20), pp. 1381–1385. doi: 10.5897/ajmr2015.7294.

Refdanita, R., Maksum, R,, Nurgani, A., dan Endang, P. (2004). Pola kepekaan kuman terhadap antibiotika di ruang rawat intensif rumah sakit Fatmawati jakarta tahun 2001-2002. Makara Kesehatan, 8(2), pp. 41–48.

Rukmono, P. and Zuraida, R. (2016). Uji kepekaan antibiotik terhadap Pseudomonas aeroginosa penyebab sepsis neonatorum. Sari Pediatri, 14(5), pp. 332–336. doi: 10.14238/sp14.5.2013.332-6.

Setiawansyah, A., Hakim, A. and Wirasisya, D. G. (2018). Evaluation and identification of antibacterial compound of neem leaves and barks (Azadirachta indica A.Juss) against Escherichia coli. Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia, 11(2), pp. 40–48.

Sule, W., Okonko, I.O., Joseph, T.A., Ojezele, M.O., Nwanze, J., Adeolu, A.J., et al. (2010). In vitro antifungal activity of Senna alata Linn. Crude Leaf Extract. Research Journal of Biological Sciences, 5(3), pp. 275–284. doi: 10.3923/rjbsci.2010.275.284.

Wagner, H. and Bladt, S. (1996). Plant drug analysis, Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. doi: 10.1007/978-3-642-00574-9.

Yacob, T. dan Endriani, R. (2010). Daya antibakteri ekstrak etanol Ketepeng cina (Senna alata) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Jurnal Natur Indonesia, 13(1), pp. 63–66. DOI: 10.31258/jnat.13.1.63-66.

Downloads

Published

2025-05-31

How to Cite

Nabila, D. T., & Indrayudha, P. (2025). AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK SAMBUNG NYAWA, PEGAGAN, KETEPENG CINA, DAN BAYAM MERAH TERHADAP Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 SENSITIF DAN RESISTEN. Usadha Journal of Pharmacy, 4(2), 216–227. https://doi.org/10.23917/ujp.v4i3.536

Issue

Section

Articles