Makna Simbolik Upacara Baayun Mulud pada Masyarakat Desa Anjir Muara Lama Kecamatan Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala

Authors

  • Kiki Juliarty Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
    Indonesia
  • Istiqamah Istiqamah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
    Indonesia
  • Muhammad Ridha Anwari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
    Indonesia
  • Naomi Grascia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
    Indonesia
  • Eqmi Avi Daviria Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univeritas Muhammadiyah Banjarmasin
    Indonesia
  • Irvan Mahendra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
    Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.23917/jkk.v4i1.332

Keywords:

baayun mulud, galang-galangan rantai, kualitatif, perilaku nonverbal, semiotik

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Makna Simbolik Upacara Baayun Mulud pada masyarakat di Desa Anjir Muara Lama, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, yang merupakan kajian semiotika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna simbolik yang ada pada upacara baayun mulud pada suku adat Banjar di Desa Muara Tua Anjir, serta menggambarkan keberadaan upacara baayun mulud di Desa Anjir Muara Lama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini berdasarkan wawancara terhadap empat kelompok objek penelitian yaitu: ibu/ayah muda (rentang usia 25-35 tahun), ibu/ayah dewasa (rentang usia 35-60 tahun), orang lanjut usia (lebih dari 60 tahun), serta dua orang tokoh agama setempat. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 19 responden, ditemukan 13 bahan dan benda yang digunakan dalam upacara baayun mulud, yaitu: tiang kayu (buaian), tali tambang/tali ayun, kain tiga lapis, kambang sarai, ular, ketupat, galang-galangan rantai, uang logam/kertas, kue apam, kue cincin, lontong ketan, pisang, dan piduduk. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa upacara baayun mulud memiliki makna yang dalam bagi kebudayaan dan erat kaitannya dengan agama, serta keberadaannya hingga saat ini tetap terjaga.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anwari, M. R., & Hamidah, J. (2022). Language styles in Banjarese oral tradition Andi-andi. PROSIDING SINAR BAHTERA, 269–274.

Anwari, M. R., Yunus, M., & Normuliatti, S. (2021). The stories of Datu in South Kalimantan: Literary reception studies. Aksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(1), 154–167.

Arifin, F. (2015). Representasi simbol candi Hindu dalam kehidupan manusia: Kajian linguistik antropologis. Jurnal Penelitian Humaniora, 16(2), 12–20.

Arokonto. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Aziza, F. N., Anwari, M. R., & Istiqamah, I. (2021). Bahasa Indonesia. Idealektik, 3(1), 111–117.

Berger, A. A. (2010). Pengantar Semiotika Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Chaer, A. (2007). Kajian Bahasa: Struktur Internal, Pemakaian, dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Indonesia. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djumadi, D., Sulistyanto, H., Narimo, S., Prayitno, H. J., Suleha, S., Rosita, E., ... & Shohenuddin, S. (2023). Penguatan literasi budaya Indonesia pada siswa Sanggar Belajar Sentul Kuala Lumpur dengan permainan tradisional. Buletin KKN Pendidikan, 5(2), 180–190.

Farid, R., & Yunus, M. (2021). Identities, language, and Wayang Gung of South Kalimantan. ENLIT, 1(1), 37–37.

Hiliadi, W. (2019). Nilai-nilai tradisi Baayun Mulud sebagai kearifan lokal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Civic Edu: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 1(1), e-ISSN: 2580-0086. DOI: http://dx.doi.org/10.23969/civicedu.vlil.1192.

Hoed, B. B. (2014). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya (Edisi Ketiga). Beji Timur, Depok: Komunitas Bambu.

Idham, S., dkk. (2007). Urang Banjar dan Kebudayanya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pustaka Banua.

Istiqamah, I., & Anwari, M. R. (2021). Penokohan dan citra perempuan pada novel Kekasih Musim Gugur karya Laksmi Pamuntjak. Idealektik, 3(1), 118–125.

Jamalie, Z. (2014). Akulturasi dan kearifan lokal dalam tradisi Baayun Maulid pada masyarakat Banjar. Jurnal el Harakah, 16(2). http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/2778.

Kamariah, K., Hamidah, J., & Krismanti, N. (2023). Konservasi bahasa Banjar sebagai usaha pelestarian bahasa daerah di Kalimantan Selatan. Jurnal Konfiks, 10(2), 31–44.

Kamariah. (2019). Makna simbolik dalam adat Badudus pengantin Banjar. Jurnal Seminar Sastra III Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Banjarmasin. https://jurnal.stkipbjm.ac.id/index.php/ocspbsi/article/view/942.

Kentary, A., Ngalim, A., & Prayitno, H. J. (2015). Tindak tutur ilokusi guru berlatar belakang budaya Jawa: Perspektif gender. Jurnal Penelitian Humaniora, 16(1), 61-71.

Kompasiana.com. (2015, Juni 17). Analisis data kualitatif Miles and Huberman. Diakses pada tanggal 15 Desember 2021, dari: https://www.kompasiana.com.

Mahsun. (2007). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya (Edisi Revisi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.

Ngalimun. (2018). Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Normuliati, S., Hamidah, J., & Anwari, M. R. (2020). Penanaman sikap cinta tanah air melalui kajian ekologi sastra dalam novel bersetting di Kalimantan Selatan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 10(2), 60–68.

Normuliati, S., Hamidah, J., & Anwari, M. R. (2022). Potret pendulangan intan, pertambangan batubara, dan kondisi sungai dalam novel-novel berlatar di Kalimantan Selatan. ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 3(1), 33–44.

Nurmansyah, dkk. (2019). Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi. Bandar Lampung: AURA CV Anugrah Utama Raharja Anggota IKAPI.

Parera, J. D. (2004). Teori Semantik (Edisi Kedua). Jakarta: Erlangga.

Pateda, M. (2001). Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Prasetya, A. B. (2019). Analisis Semiotika Film dan Komunikasi. Malang: Intrans Publishing.

Shariansyah, dkk. (2011). Upacara Adat Dayak dan Banjar. Banjarmasin: Antasari Press.

Subroto, E. (2011). Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suhardi. (2015). Dasar-Dasar Ilmu Semantik. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Sumarto. (2019). Budaya: Pemahaman dan penerapannya (aspek sistem religi, bahasa, pengetahuan, sosial, kesenian, dan teknologi). Jurnal Literasiologi, 1(2), Juli–Desember 2019. DOI: https://doi.org/10.47783/literasiologi.vli2.49.

Suwandi, S. (2011). Semantik: Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa.

Syamsuddin, A. R., dkk. (2015). Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syar'i, A., Akrim, A., & Hamdanah, H. (2020). Turnitin: The development of madrasa education in Indonesia.

Syar'i, A. (2020). Analysis of Children's Educational Aspirations in Dayak Ngaju Families; Islam, Christian and Kaharingan in Central Kalimantan. Ilkogretim Online-Elementary Education Online, 19(4), 179-193.

Syar'i, A. (2017). Persepsi Keluarga Muallaf Tentang Pendidikan Agama Islam Anak Di Desa Danau Pantau Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. On Indonesian Islam, Education And Science (ICIIES) 2017, 399.

Thamrin, dkk. (2013). Ebook Antropologi. Diakses dari: http://ebook.gunadarma.ac.id.

Wahyuni, L. (2008). Kekuasaan simbolik dalam wacana politik di media cetak.

Wajidi. (2014). Hubungan Islam dan budaya dalam tradisi Baayun Maulid di Masjid Banua Halat Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Jurnal Patanjala, 6(3), 349–366. https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/2778.

Yule, G. (2015). Kajian Bahasa (Edisi Kelima). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yunus, M. R. A. M. (2020). Relasi semantik bahasa Banjar dialek Hulu. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 10(1), 78–88.

Yunus, M., & Anwari, M. R. (2013). Makna dan fungsi Mahalabiu dalam pertuturan masyarakat desa. Jurnal Pendidikan Bahasa Melayu – JPBM (Malay Language Education Journal – MyLEJ).

Downloads

Published

2024-12-24

How to Cite

Juliarty, K., Istiqamah, I., Anwari, M. R., Grascia, N., Daviria, E. A., & Mahendra, I. (2024). Makna Simbolik Upacara Baayun Mulud pada Masyarakat Desa Anjir Muara Lama Kecamatan Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Keilmuan Dan Keislaman, 4(1), 111–121. https://doi.org/10.23917/jkk.v4i1.332

Issue

Section

Articles